Lirik Lagu Karo - Kam Nina

Posted by Mr. Blue Rabu, 23 Februari 2011 6 comments
ula numpah padan birinkQ
ula kam triluh morah ate
Qkelengi kam pgi asa ngasupQ
rasa lalap kam Qtegu mesayang

ku gia matandu Rpengidah
tatap glah aku saja pusuhndu
mataQ e pagi pendungi ija dalindu
pusuhndu e pagi inganQ nalu2

kam nina pusuhku biringQ
kam pusuh....
kulebuh gelarndu mesayang
kam usur reh bas nipingQ

biringQ aloi ma itink ndu
kukelengi kam kap rudang geluhQ
adi ras kita pagi duana
Q pagi nami2 geluh ndu

..... dage bre karondu
ula turang ula isangsiken ndu
......(sambung nake)

Permadani Hijau Deleng Sibuaten

Posted by Mr. Blue Minggu, 16 Januari 2011 5 comments
Seorang teman membuat rencana dan persiapan perjalanan ke Deleng Sibuaten. Kebetulan, gunung ini sudah lama menjadi incaran pendakian bagiku. Sibuaten mempunyai keunikan tersendiri dibanding gunung-gunung lain di Sumatera Utara. Alamnya masih asri, vegetasinya khas, jalurnya menantang, ditambah panoramanya yang menawan. Mereka bilang begitu. Aku masih harus membuktikannya.

Gunung (Deleng) Sibuaten adalah salah satu gunung yang berada di sekitar Danau Toba, dan termasuk ke dalam Tumor Toba. Terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, berdasarkan peta topografi keluaran Bakorsurtanal, gunung ini memiliki ketinggian 2.457 meter dari permukaan laut (mdpl).

Dari Medan, kami menuju Desa Naga Lingga, Kecamatan Merek, dengan menumpang sebuah angkutan umum jurusan Medan-Sidikalang. Butuh waktu sekitar 3 jam untuk tiba di desa ini. Setelah membayar ongkos Rp 15.000 per orang, kami pun tiba di Naga Lingga. Tentu saja saya tak perlu menggambarkan lagi pada Anda pemandangan yang sejuk sejak memasuki Kota Berastagi.

Sipiso-piso dan Sibuaten

Desa Naga Lingga adalah desa terdekat dengan rute pendakian yang kami pilih. Ada sekitar 200 kepala keluarga menetap di pemukiman yang berada di sebelah timur laut Gunung Sibuaten ini. Desa Naga Lingga dihuni oleh campuran suku Karo dan Toba yang pada umumnya adalah petani. Dari tatapan mata penduduk, kami yakin kalau mereka belum terbiasa dengan pendaki yang melintasi desanya.

Dari Desa Naga Lingga, kami berjalan sekitar 30 menit menuju pintu rimba dengan menyusuri jalur pedati. Kendaraan tradisional pedati memang alat pengangkutan yang paling efektif untuk lokasi yang kami lewati. Sepanjang jalan menuju pintu rimba, kami dapat menyaksikan dari dekat aktivitas masyarakat di ladangnya. Di antara hamparan kebun sayur-mayur, sesekali terlihat tanaman jeruk dan kopi.

Menuju pintu rimba, aku terkesan dengan bentang alam yang terhampar, dengan Deleng Sipiso-piso di belakang dan Deleng Sibuaten di depan. Deleng adalah sebutan masyarakat sekitar untuk sebuah gunung.

”Ambil saja,” seru seorang wanita setengah baya menawarkan buah tomatnya yang sedang ranum. Dan bukan cuma dia yang menawarkan hasil ladang pada kami sepanjang perjalanan. Orang-orang di sini sangat murah hati.

Pintu rimba Deleng Sibuaten berada pada kaki sebuah bukit kecil yang akan menghantar pendaki ke puncak gunung. Sebuah anak sungai menyambut kami dengan air yang bening. Altimeter menunjukkan ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut.

Setelah melakukan orientasi sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Lebatnya vegetasi hutan segera saja menelan kami di bawahnya. Faisal, temanku, yang sudah pernah sekali ke gunung ini memimpin di depan. Sementara Suban, Yanti, Risna, Tari dan Aku mengekor di belakangnya.

Perang dengan Sipiso-piso
Setelah satu jam berjalan, kami tiba pada ketinggian 1.700 mdpl. Jalan setapak sampai titik ini masih sangat jelas karena sering dilalui penduduk untuk mencari rotan dan berburu. Aku melihat sebuah tempat yang cukup lapang untuk mendirikan tenda dengan anak sungai kecil di sebelahnya. Anak sungai ini adalah sumber air terakhir sebelum ke puncak. Artinya, kami harus membawa persediaan air dari tempat yang biasanya dijadikan camp I ini.

Botol-botol air sudah berisi penuh. Sekarang beban kami berlipat ganda. Rombongan kemudian merayapi punggungan Gunung Sibuaten. Menurut cerita rakyat setempat, deleng ini pernah berperang. Alkisah, pada zaman dahulu kala, Deleng Sibuaten terlibat perselisihan dengan tetangganya, Deleng Sipiso-piso.



Dalam peperangan tersebut, Deleng Sibuaten harus kehilangan topinya setelah terkena sabetan pisau Deleng Sipiso-piso. Tak dapat menerima kekalahannya, Deleng Sibuaten mengadu ke Deleng Sibayak yang memiliki semburan api mematikan.

Sibayak pun berang dan dengan sekuat tenaga dia menyemburkan apinya hingga membakar Sipiso-piso. Badan Sipiso-piso pun hangus terbakar, kecuali kepalanya. Jadilah Sipiso-piso seperti sekarang, yang hanya punya pepohonan di daerah puncaknya. Sementara, topi Deleng Sibuaten yang terkena sabetan pisau jatuh di daerah Silalahi dan menjadi sebuah gunung kecil.

Kami hanya punya waktu satu malam untuk berakhir pekan di deleng ini. Jadi kami tidak berencana bermalam di camp I. Dari sumber air terakhir, jalur pendakian mulai samar. Maklum, aktivitas hiking ke gunung ini masih terhitung jarang. Faisal tak mau ambil risiko. Dengan rutin ia memelototi peta, kompas dan altimeter. Beberapa kali kami harus mengikatkan tali rapia berwarna kuning pada jalur yang kami anggap rawan, sebagai tanda.

Hutan Lumut, Anggrek dan Kantung Semar
Sekitar 1,5 jam berjalan, kami tiba pada ketinggian sekitar 1.900 mdpl. Di sini, rombongan menyempatkan diri beristirtahat sejenak, menghimpun tenaga untuk melalui jalur yang semakin sulit di depan. Tempat ini terasa sangat lembab. Banyak tanaman lumut menempel pada pepohonan. Pakaian di tubuh kami hampir semua basah oleh butiran air saat harus mengendap-endap di bawahnya.

Dengan nafas yang masih agak memburu, kami melanjutkan perjalanan. Altimeter bergerak berlahan menunjuk angka yang semakin besar. Aku menikmati berbagai jenis tanaman kantung semar (Nepenthes) yang tumbuh di sembarang tempat. Ada yang tumbuh dan tetap di permukaan tanah, tetapi ada juga yang hidup merambat pada pepohonan. Berbagai jenis serangga kecil terjebak pada kantungnya. Sepertinya, tanaman yang sedang naik daun sebagai tanaman hias di Eropa ini tak pernah kurang gizi di hutan Sumatera.

Selain Nephentes sang pemangsa serangga, aku juga menemui beberapa jenis anggrek dengan berbagai ukuran dan warna. Kebanyakan tanaman ini tumbuh menempel pada tanaman lain, tetapi ada juga yang tumbuh di tanah. Sayang, dari kami berenam, tidak ada yang paham tentang jenis-jenis anggrek.

Pada ketinggian sekitar 2.250 mdpl, tim pendaki kembali harus berhenti untuk mengumpulkan tenaga. Kali ini di sebuah tempat yang agak terbuka setelah melewati punggungan yang tipis. Kami telah menempuh medan yang sangat curam dengan vegetasi yang sangat rapat. Sangat sukar menembus jalur yang kadang tidak jelas.

Tapi di lokasi peristirahatan ini kami menemukan perubahan pada tumbuhan sekitarnya. Vegetasi mulai terlihat agak seragam, baik dari segi jenis maupun ukurannya. Hanya terdapat beberapa pohon berukuran kecil dengan tanaman perdu-perduan. Walaupun demikian, semua tumbuhan tersebut masih dihiasi lumut pada hampir setiap bagian tubuhnya.

Dari tempat yang agak terbuka, aku dapat menyaksikan lampu-lampu Desa Merek yang mengabarkan senja. Tak banyak waktu yang kami luangkan untuk istirahat. Selain menghemat waktu pendakian, terlalu lama berdiam di hutan lumut ini bisa membuat kami membeku.

Puncak Timur
Hampir pukul 21.00 WIB ketika kami tiba pada ketinggian sekitar 2.380 mdpl. Ini berarti enam jam sudah kami berjalan menyusuri gunung. Lega rasanya setelah melewati hutan lumut. Kini pemandangan didominasi oleh perdu-perduan rendah yang kadang hanya setinggi orang dewasa. Kami semakin dekat dengan puncak.

Biasanya, sebuah pendakian selalu kami akhiri antara pukul 17.00-18.00 WIB untuk menjaga stamina fisik dan kenyamanan perjalanan. Hari ini, kebiasaan tersebut terpaksa dilanggar. Pertama, pada ketinggian 2.050-2.380 mdpl yang telah kami lalui, kondisi medan sangat curam. Hal ini membuat sulit mencari tempat yang datar dan cukup untuk menampung enam orang dalam satu tenda.

Selain itu, vegetasinya sangat rapat. Bila kami memaksakan diri membuka tenda, maka beberapa tanaman harus ditebas untuk melapangkan lokasi. Bayangkan bila setiap pendakian melakukan hal ini. Keasrian Deleng Sibuaten akan terganggu.

Alasan kedua, jika terus mendaki meski kondisi jalur kurang jelas dan lambat, setidaknya kami akan terus mengurangi jarak ke puncak. Ketiga, bermalam di hutan lumut ini sepertinya tidak akan membuat tidur kami nyeyak.

Dari ketinggian 2.380 mdpl, tim pendakian terus merangkak berlahan menembus rimbunnya tanaman perdu. Semakin lama, perdu-perduan makin kerdil sampai hanya sebatas lutut orang dewasa. Sekitar 20 menit berjalan, kami akhirnya tiba di sebuah hamparan tanaman perdu yang cukup luas. Di tempat terbuka ini, perdu tak lebih tinggi dari batas pinggang. Altimeter menunjukkan ketinggian 2.439 mdpl. Ini berarti kami sudah sampai di puncak timur Deleng Sibuaten.

Menurut perhitungan, hanya butuh sekitar 45 menit dari sini ke puncak 2.457 mdpl. Kami memutuskan menginap di sini, mengingat kondisi fisik yang sangat letih. Udara dingin segera saja menusuk tulang.

Menara Pemantau
Keesokan harinya, pagi sekali, kami sudah melepas sleeping bag. Tidak ada pendaki yang mau kehilangan indahnya sunrise di Deleng Sibuaten. Apalagi cuaca cukup baik pagi ini.

Nun jauh di ufuk timur, di balik pegunungan yang membalut Danau Toba, matahari pagi muncul perlahan-lahan seperti kehadiran maharaja menuju tahta. Kicauan burung menyambut seperti ritual bumi yang paling kekal. Terasa sangat dramatis di sini.

Sembari menyiapkan sarapan, aku tak henti-hentinya kagum dengan apa yang kami saksikan. Ekosistem Sibuaten memang masih asri. Harus kuakui. Di sebelah timur, sisi barat Danau Toba dan Pulau Samosir meremang di sela-sela kabut pagi.

Di sebelah utara, Gunung Sinabung dan Sibayak menyapa siang seperti dua raksasa buncit yang malas. Sementara di sisi selatan, lampu-lampu Kota Sidikalang tampak semakin redup sampai akhirnya padam sama sekali. Kehidupan dimulai lagi.

Hanya pemandangan ke sisi barat gunung yang tidak dapat disaksikan dari Puncak Timur. Di sana, Puncak Barat memblok mata seraya menyembunyikan satu lagi panorama yang akan menjadi tujuan akhir kami. ”Seperti menara pemantau saja!” ujar Tari.

Pukul 08.30 WIB, setelah sarapan, kami bergegas meninggalkan Puncak Timur. Lalu menyusuri sebuah punggungan kecil menuju Puncak Barat. Jalan menuju puncak ini melalui sedikit hutan lumut dengan pepohonan yang tidak terlalu tinggi.

Sepanjang itu, kami kembali menjumpai berbagai jenis kantung semar dan anggrek liar. Dan menjelang Puncak Barat, setelah sekitar 30 menit berjalan, tanaman perdu yang cukup rendah kembali menggantikan vegetasi sebelumnya. Panorama dari tempat ini tak kalah menarik, ditambah jurang di sebelah kiri kanan. Aku merasa seperti berada di atas kehidupan beralaskan permadani hijau.

Sekitar 45 menit berjalan turun naik, akhirnya kami tiba di puncak Deleng Sibuaten yang sebenarnya. Sebuah pilar beton bertuliskan SEC TRIANG No. 191 setinggi kurang lebih 1,5 meter menyambut siapa saja yang menjejakkan kaki di sini. Pilar ini merupakan tanda triangulasi dengan ketinggian 2.457 mdpl.

Vegetasi di sekitar pilar hanya pepohonan kecil yang cenderung homogen. Dari tempat ini, kami dapat menyaksikan bentangan hutan yang masih sangat hijau di bawah sana. Entah sampai kapan bentangan itu bertahan sebagai permadani hijau.

Walau jauh terpencil, tapi pilar Gunung Sibuaten tak luput jua dari aksi vandalisme. ”Makumba” tertulis dengan sengaja pada pilar itu. Entah apa artinya.

Kami berpose bersama di dekat pilar. Bagi pendaki sejati, akan lebih baik menunjukkan selembar foto dari pada membawa turun setangkai bunga anggrek dari gunung. Selesai mengumpulkan sampah bekas makanan kaleng pendaki terdahulu, kami pun bergegas turun.

Satu harapan telah kutinggalkan di puncak. ”Tuhan, pertahankanlah keasrian Gunung Sibuaten dari tangan-tangan tak bertanggung jawab. Itupun bila Engkau masih mau mendengarkan permohonan kami”. ***

sumber: http://www.tanahkaro.com/

Rumah Adat Karo dan Reliefnya

Posted by Mr. Blue 3 comments

Suku Karo terlebih di Desa Lingga, sampai saat ini masih memiliki bangunan-bangunan tradisional seperti: rumah adat, Jambur, Lesung, Geriten dan Sapo Page. Bentuk, bahan dan teknik mendirikan bangunan itu hampir sama. Letak dindingnya miring ke arah luar, mempunyai dua pintu yang menghadap ke arah barat dan timur.

Pada kedua ujung atap terdapat tanduk atau patung kepala kerbau. Dinding lantai dan tiang-tiangn terbuat dari kayu. Untuk tangga ture atau tea dibuat dari bambu. Alat pengikat dan atap digunakan ijuk. Pada beberapa bagian rumah terdapat relief yang dicat dengan warna merah, putih, kuning, hitam dan biru. Bangunan-bangunan itu berbentuk khusus, melambangkan sifat-sifat khas dan suku bangsa Karo.

Rumah adat Karo mempunyai ciri-ciri serta bentuk yang khusus. Rumah ini sangat besar dan didalammya terdapat ruangan yang luas, tidak mempunyai kamar-kamar. Namun mempunyai bagian-bagian yang ditempati oleh keluarga batih atau jabu tertentu. Rumah adat berdiri di atas tiang-tiang besar serupa rumah panggung yang tingginya kira-kira dua merter lebih dari tanah. Lantai dan dinding dari papan yang tebal dan letak dinding rumah agak miring keluar, mempunyai dua buah pintu menghadap ke sebelah barat satu lagi ke sebelah Timur.

Tangga masuk ke rumah juga ada dua, sesuai dengan letak pintu dan terbuat dari bambu bulat. Menurut kepercayaan mereka, jumlah anak tangga harus ganjil. Di depan masing-masing pintu terdapat serambi, dibuat dari bambu-bambu bulat, besar dan kuat disebut Ture. Ture ini digunakan untuk anak gadis bertenun. Sedang pada malam hari, Ture atau serambi ini, berfungsi sebagai tempat naki-naki atau tempat perkenalan para pemuda dan pemudi untuk memadu kasih.

Sesuai dengan atapnya, rumah adat karo terdiri dari dua macam, yaitu rumah adat biasa dan rumah anjung-anjung. Pada rumah adat biasa mempunyai dua ayo-ayo dan dua tanduk kepala kerbau. Sedangkan pada rumah anjung-anjung terdapat paling sedikit ayo-ayo dan tanduk kepala kerbau.

Teknologi tradisional lainnya yang masih ada peninggalannya di desa Lingga adalah Sapo Page yang artinya lumbung padi. Bentuk Sapo Page, seperti rumah adat. Letaknya di halaman depan rumah adat. Tiap-tiap Sapo Page milik dari beberapa jambu atas rumah adat. Sama dengan Geriten, Sapo Page terdiri dari dua tingkat dan berdiri di atas tiang. Lantai bawah tidak berdinding. Ruang ini digunakan untuk tempat duduk-duduk, beristirahat dan sebagai ruang tamu. Lantai bagian atas mempunyai dinding untuk menyimpan padi.

Warisan budaya berupa bangunan lain yang masih dapat kita jumpai di desa Lingga, lesung antik. Lesung ini dibuat dari kayu pangkih sejenis kayu keras. Lesung ini mempunyai tiga puluh empat buah lubang tempat menumbuk padi. Letak lubang ada yang berpasang-pasang dan ada pula yang sebaris memanjang. Lesung ini terletak dalam sebuah bangunan tradisional yang tidak berdinding. Bangunan ini mempunyai enam buah tiang-tiang besar, tiga sebelah kanan yang disebut binangun Pinem.

Kenangan

Salah satu karya tradisi yang mempertegas bahwa rumah tidak sekedar menonjolkan efisiensi fungsi ruang, tapi juga tempat menumbuhkan nilai-nilai. Salah satunya kebersamaan, salah satu nilai kuat dipancangkan di rumah adat Karo Rumah Adat Karo merupakan simbol kebersamaan masyarakat Karo itu sendiri.

Bangunan rumah Tradisional Karo memiliki dua belas, delapan, enam dan empat keluarga yang hidup berdampingan dalam keadaan damai dan tenteram. Rumah warisan budaya Karo berusia ratusan tahun dan terdapat di sejumlah desa di Kabupaten Karo, termasuk di Desa Lingga. Rumah adat itu di sebut di waluh jabu, sepulu dua jabu, enem jabu dan empat jabu. Artinya dalam rumah adat sepuludua jabu, dalam rumah adat itu terdapat 12 kepala keluarga dan seterusnya.

Bahan bangunan rumah tradisionil ini dari kayu bulat, papan, bambu dan beratap ijuk tanpa menggunakan paku yang dikerjakan tenaga arsitektur masa lalu. Rumah adat karo memiliki dua pintu, yang letaknya di bagian depan dan yang satunya lagi di belakang. Jumlah jendela-nya ada delapan. Empat ada di samping kiri dan kanan.

Empatnya lagi ada di bagian depan dan belakang. Organisasi rumah adat ini berpola "linier" karena ruangan-nya menunjukkan bentuk garis. Pada beberapa bagian rumah, terdapat relief yang dicat dengan warna merah, putih, kuning, hitam dan biru. Bangunan-bangunan itu berbentuk khusus yang melambangkan sifat-sifat khas dan suku Karo.

Keunikan dari rumah adat Karo dibandingkan dengan rumah adat lainnya yang ada di Sumatera adalah pada atapnya. Atap rumah adat karo bertingkat dua dan pada kedua ujung atap terdapat tanduk kerbau.

Kondisi rumah peninggalan nenek moyang Karo tersebut sangat memprihatinkan. Di Desa Lingga terdapat sekitar 28 rumah adat. Kini tinggal 2 buah lagi yang layak huni, yakni rumah Gerga (Raja) dan rumah Blang ayo. Sekitar 5 rumah adat disana berdiri miring dan hampir rubuh. Sedangkan rumah adat lainnya telah rubuh.

Menurut Tokoh Masyarakat Lingga, pernah ada upaya yang dilakukan untuk merehabilitasi rumah adat melalui pihak pemerintah dan swasta, tapi sampai saat ini belum terealisasi.

Ada juga pernah membantu tapi belum mencukupi. Biaya rehabilitasi rumah adat di Lingga memerlukan dana sekitar 2, 5 Miliar.

"Kami berharap dana rehabilitasi rumah adat Lingga dianggarkan dalam APBD Karo," kata mereka.

Dulu Desa Lingga merupakan salah satu daerah tujuan wisata, Sumut yang juga memiliki Lumbung Padi, Lesung Antik dan Geriten (bangunan tempat menyimpan tengkorak sanak keluarga yang telah meninggal).

Dengan kurangnya keperdulian terhadap Rumah Adat Karo ini, diperkirakan, tak lama lagi Rumah Adat Karo hanya tinga kenangan. Anak cucu yuang lahir di abad sekarang, hanya mampu melihat foto-foto belaka. Kapan rumah adat Karo dan relief-leriefnya yang memiliki makna cukup tinggi bisa direhabilitasi? Kita hanya bisa menunggu saja. ***

sumber: http://www.tanahkaro.com/

Adat Untuk Warga Yang Meninggal Dunia

Posted by Mr. Blue Kamis, 13 Januari 2011 2 comments
Kalau kita berbicara tentang kematian, secara tidak langsung itulah yang ditunggu-tunggu manusia yang sadar bahwa tanpa kematian tidak ada proses pada kehidupan yang kekal dan abadi. Kematian itu adalah proses alami yang harus berlaku bagi setiap manusia yang beragama (menurut kepercayaan), dan khususnya Dalihan Natolu, mempunyai arti tersen...diri sehingga tidak lepas dari bagian Adat dan Budaya Batak.

Dalam hal ini kita dapat mengamati pada acara dan Upacara yang berlaku di masyarakat Dalihan Natolu khususnya di Jabotabek dalam segala usia dan menurut kebiasaan yang dilakukan. Oleh karena itu perlu kita ajukan suatu acuan pedoman yang diharapkan dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat Dalihan Natolu dalam pelaksanaan Adat kematian dimasa mendatang.

Kita dapat membedakan Adat Kematian dalam masyarakat Dalihan Natolu berdasarkan agama (dapat dijelaskan secara singkat). Macam atau Ragam Adat bagi warga yang meninggal dunia:
  1. TILAHA : Kematian bagi warga Dalihan Natolu berkeluarga yang biasa disebut NAPOSO dalam hal ini perlakuan.
  2. PONGGOL ULU (SUAMI) : Kematian yang diakibatkan si suami lebih dahulu meninggal dunia daripada si istri, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.
  3. MATOMPAS TATARING (ISTRI) : Kematian yang diakibatkan si istri lebih dahulu meninggal daripada si suami, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.
  4. SAUR MATUA : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang sudah mempunyai cucu dan semua anak-anaknya sudah berkeluarga.
  5. MATUA BULUNG : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang telah mempunyai cucu bahkan sudah mempunyai cicit atau disebut Nini/Nono dengan lanjut usia.
  6. Nini : Disebut keturunan dari anak laki-laki
  7. Nono : Disebut keturunan dari anak perempuan
Bagaimanakah hubungannya kematian tersebut dengan Adat Dalihan Natolu, dalam hal ini lebih dahulu kita harus mengetahui yang meninggal termasuk golongan mana dari Ragam kematian tersebut diatas untuk menempatkan Adat juga hubungannya dengan Ulos.

Dalihan Natolu mempunyai 3 hal yang berhubungan dengan Ulos:
  1. 1. Pemberian ULOS SAPUT, Ulos ini diberikan kepada yang meninggal dunia sebagai tanda perpisahan. Siapakah yang berhak memberikan SAPUT tersebut, dalam hal ini perlu kita mempunyai satu persepsi untuk masa yang akan datang karena hal ini banyak berbeda pendapat menurut lingkungannya masing-masing, misalnya HULA-HULA/TULANG.

  2. 2. Pemberian ULOS TUJUNG, Dalam hal ini semua dapat menyetujui dari pihak HULA-HULA

  3. 3. Pemberian ULOS HOLONG
Dari semua pihak Hula-hula, Tulang Rerobot bahkan Bona ni Ari termasuk dari Hula-hula ni Anak Manjae/Hula-hula ni na Marhaha Maranggi, berhak memberikan kepada Keluarga yang meninggal.

Bagaimanakah hubungannya dengan Adat Dalihan Natolu diluar Ulos tersebut yang mempunyai harga diri (dalam Pesta Adat). Dalam hal ini terjadilah beberapa pelaksanaan setelah adanya Musyawarah atau lazim disebut RIA RAJA oleh beberapa Dalian Natolu disebut Boanna. Boan ini (yang dipotong pada hari Hnya) terdiri dari beberapa macam, misalnya :
  1. 1. b**i/Kambing, disebut Siparmiak-miak
  2. 2. Sapi, disebut Lombu Sitio-tio
  3. 3. Kerbau, disebut Gajah Toba
Sesuai dengan Adat Dalihan Natolu tingkatan daripada Boan tersebut disesuaikan dengan Parjambaron.

Fungsi Dalihan Natolu menggunakan istilah Adat :
  • Pangarapotan : Adalah suatu penghormatan kepada yang meninggal yang mempunyai gelar Sari Matua dan lain-lain sebelum acara besarnya dan penguburannya atau dihalaman (bilamana memungkinkan). Dalam hal ini suhut dapat meminta tumpak (bantuan) secara resmi dari family yang tergabung dalam Dalihan Natolu disebut Tumpak di Alaman.
  • Partuatna : hari yang dianggap menyelesaikan Adat kepada seluruh halayat Dalihan Natolu yang mempunyai hubungan berdasarkan adat. Pada waktu pelaksanaan ini pulu Suhut akan memberikan Piso-piso/situak Natonggi kepada kelompok Hula-hula/Tulang yang mana memberikan Ulos tersebut diatas kepada yang meninggal dan keluarga dan pemberian uang ini oleh keluarga tanda kasihnya.. Juga pada waktu bersamaan ini pula dibagikan jambar-jambar sesuai dengan fungsinya masing-masing dengan azas musyawarah sebelumnya, setelah itu dilaksanakanlah upacara adat mandokon hata dari masing-masing pihak sesuai dengan urutan-urutan secara tertulis. Setelah selesai, bagi orang Kristen diserahkan kepada Gereja (Huria) untuk seterusnya dikuburkan.
sumber: http://www.forum-batak.com/viewtopic.php?f=12&t=10

Lirik Lagu Karo - Nuan La Rani

Posted by Mr. Blue Minggu, 09 Januari 2011 2 comments
situhuna sungkun ise ia sinuan
ia nge pepagi kedungenna si peranisa
aku ndube lampas kusuan
ateku ngena man bandu
tapi kedungenna jelma sideban peranisa

mama biringku aku kal ndube singkelengisa
tapi gundari jelma sideban ikelengindu kusayangi
kerina jelma meteh ma biring e rondongku
kai sirulah kai erbanca nde nangin tading

e labo salah ma biring tupung aku sisada
kucabinken uis gara si berekenndu
mama biringku mejuah-juah kam duana
totondu ngenca si kuarapken gelah jumpa ras ateku ngena

Cabur Bulong

Posted by Mr. Blue 4 comments
Cabur Bulong adalah suatu upacara perkawinan semu antara anak perempuan Kalimbubu dengan anak lelaki dari Anak Beru semasa masih kanak-kanak. Upacara ini biasanya dilakukan untuk menolak bala bilamana ada anak Kalimbubu ataupun anak dari pihak Anak Beru yang sering sakit-sakitan misalnya.

Jadi untuk menghindari bahaya kematian atas si anak yang sakit-sakitan tersebut dikiasi dengan cara kawin semu sebagai upaya penolak bala. Sebelum diadakan perkawinan semu tersebut biasanya dilakukan penelaah (dirasikan) apakah anak-anak yang akan dikawinkan tersebut serasi atau tidak. Bilamana menurut telaah (ramalan) serasi barulah diadakan perkawinan Cabur Bulong tersebut.

Upacara perkawinan dilakukan seperti acara Mukul dimana kedua pengantin disatukan makan (Mukul) dengan lauk Ayam Sangkep dan di osei kain adat kemudian Uang Jujuren diserahkan kepada Kalimbubu (orang tua si anak perempuan). Oleh karena itu sesungguhnya terhadap kedua anak tersebut telah melekat/diikat oleh adat perkawinan

Katy Perry - Teenage Dreams ( Full Album Download )

Posted by Mr. Blue Kamis, 26 Agustus 2010 11 comments
Setelah sukses dengan lagunya "i kissed a girl" kini Katy Perry mengeluarkan album barunya yaitu "Teenage Dream". Di album ini tersedia 12 lagu baru yang siap anda dengar dan yang menjadi hit single di album ini adalah "California Gurls".